TAHUKAH KAMU……???? S I K A P C A R E F O R C E PADA FENOMENA CIUMAN DALAM PACARAN


Faktanya, kebanyakan teman-teman pernah mendengar bahwa teman mereka telah melakukan ciuman dalam pacaran. Saat pertanyaan, “Perlukah ciuman dalam pacaran?” Sebagian menjawab dengan jujur, “Tergantung! Kalau sekarang belum butuh. Tapi kalau nanti, ya…. Bisa jadi.”

Pada dasarnya semua remaja mengetahui bahwa ciuman itu haram karena dilakukan oleh yang bukan mukhrim dan mengundang perzinaan. Selain itu, mereka juga tahu bahwa ciuman dalam pacaran bukan budaya kita sebagai orang timur, apalagi orang Minangkabau yang menganut prinsip adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah.

Adanya tekanan dari teman sebaya bahwa ciuman merupakan pembuktian cinta adalah salah satu alasan ciuman dalam pacaran di kalangan remaja. Sering si pacar memaksa karena teman-temannya yang lain sudah pernah ciuman. Alasan lain, juga ada karena ingin tahu rasanya, nafsu, dan longgarnya control social. Nah, ada juga teman-teman yang berpendapat, bahwa ciuman pipi itu boleh-boleh saja.

CARE FORCE menghargai keterbukaan teman-teman remaja. Kejujuran dalam atmosfir kekeluargaan dan perasaan saling percaya adalah sebuah titik terang untuk menentukan sikap CARE FORCE terhadap fenomena ini. Pencerahan itu muncul saat kami sampai pada pertanyaan, tahu nggak, kalau ciuman bisa menularkan penyakit kelamin, HIV dan beberapa penyakit menular lainnya? “Nggak!”
Demikian jawab sebagian besar teman-teman.

Ciuman yang menyebabkan pertukaran air liur sebenarnya menjadi peluang penularan beberapa penyakit. Air liur mengandung bakteri dan kuman-kuman yang bisa Menularkan penyakit seperti bau mulut, TBC, Hepatitis. Pada kasus dimana terjadinya luka atau sariawan dan gusi berdarah, HIV bisa memanfaatkan media luka sebagai penularan virus.

Faktanya, kita ataupun si pacar tidak benar-benar tahu apakah kita sama-sama bersih dari penyakit tersebut. Karena beberapa penyakit, membutuhkan waktu untuk memperlihatkan gejalanya, meski sementara itu ia sudah dapat menularkan pada orang lain. Maka untuk melindungi diri sendiri ataupun si pacar, CARE FORCE menolak ciuman dalam pacaran. Pun jika nanti akan menikah, perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh agar kedua belah pihak sama-sama siap secara jasmani.

CARE FORCE berpendapat bahwa pacaran yang tidak melibatkan hubungan seksual (termasuk ciuman) adalah potensi untuk mengatur hasrat seksual yang ada pada diri remaja. Kepercayaan dan saling pengertian untuk sama-sama menjaga sikap agar tidak mengekspresikan perasaan sayang dan cinta itu pada kegiatan seksual adalah ciri pacaran sehat yang mengajarkan kita untuk bertanggung jawab pada diri, pacar, dan hasrat seksual yang kita miliki.

CARE FORCE melihat, bahwa selama ini, kita kurang mendapatkan referensi yang asyik soal pacaran yang keren. Sehingga kita selalu mencocokkan diri dengan orang-orang di TV atau majalah, seolah jika bisa melakukan seperti mereka, kita merasa sudah keren. Untuk itu, perlu dibuat sebuah konsep pacaran yang keren namun sehat tanpa harus melibatkan hubungan seksual seperti yang banyak didikte oleh media. Ini jelas butuh kreativitas kita!!!

CARE FORCE,
mulai dari diri sendiri, akan sama-sama mengajak teman, saudara atau siapa saja
untuk tidak melakukan ciuman dalam pacaran salah satunya karena alasan
kesehatan.

~ oleh primamoklet pada Januari 5, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: