Surprise dari Antariksa untuk Indonesia


Kejutan Serbuan Meteorit Sporadis

APRIL, sepertinya, layak menjadi bulan antariksa Indonesia. Dalam sebulan ini, ada dua kejadian yang berhubungan dengan luar angkasa dan menarik perhatian banyak pihak. Pertama, pengumuman hujan meteor Lyrid yang puncaknya terjadi pada 21-22 April 2010 berlalu. Selang seminggu (29/4) tiga rumah di Jakarta hancur karena dihantam meteor.

Peristiwa yang paling heboh dan menjadi perbincangan tentu yang kedua. Hancurnya tiga rumah di Duren Sawit, Jakarta, membuat heboh warga. Banyak pendapat bermunculan. Bahkan, ada yang menyangka bahwa ledakan itu terjadi karena bom atau unsur mistis lainnya.

Tapi, penelusuran pihak Polri dan Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) sudah memberikan konfirmasi pasti. Tiga rumah itu hancur karena dihantam meteorit sporadis.

Hal itu tampak dengan pola-pola kerusakan karena bertabrakan dengan benda keras. Contohnya, genting berhamburan dan dinding berlubang. Juga, adanya paparan panas yang cukup kuat di tengah rumah.

“Bukti-bukti itu menunjukkan, benda dari angkasa yang berkekuatan cukup besar dengan kecepatan dan suhu tinggi menghantam rumah di Duren Sawit, Jakarta Timur,” ujar Thomas Djamaluddin, profesor astronomi dan astrofisika Lapan.

Meteorit sporadis yang banyak muncul seperti di Duren Sawit tidak memandang tempat dan lokasi geografis. Entah itu tempatnya di daerah khatulistiwa atau dekat kutub. “Seperti peristiwa di Tunguska, Rusia. Itu kan terjadi di daerah deket kutub,” lanjut Thomas.

Pada dasarnya, benda-benda antariksa yang muncul dan terlihat mata dan sampai ke bumi disebut meteorit. Sedangkan meteor ialah benda angkasa yang masuk ke bumi dan bergesekan dengan atmosfer. Namun, benda langit itu hancur setelah bergesekan dengan atmosfer bumi.

Ketika menghunjam bumi, sebuah meteorit mempunyai daya hantam berbeda. Itu ditentukan struktur batuan langitnya. Misalnya, kasus di Bone yang menunjukkan bahwa meteor yang datang berukuran besar.

Hanya, benda langit itu meledak terlebih dahulu di angkasa. Hal tersebut terjadi karena strukturnya yang kurang kuat menahan tekanan ram (tekanan karena gesekan dengan sebuah aliran fluida baik cair maupun gas).

“Secara umum, struktur meteor ada dua. Yaitu, batuan dan logam. Struktur batuan lebih rapuh dan kurang kuat dalam menahan tekanan. Jadi, meski besar, ya rentan hancur di udara, apalagi kecil. Struktur logam lebih padat (compact), kecil-besar susah hancur. Seperti di Pontianak, ukurannya hanya 15 cm dengan bentuk agak lonjong dan utuh,” ujar sang profesor. (che/bs/c10/kkn)

Lapan; NASA Indonesia

Apa sebenarnya Lapan itu?

Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang mengurusi kedirgantaraan. Meski tidak di bawah salah satu departemen, koordinasi dilakukan bersama Departemen Ristek.

Kedirgantaraan mencakup apa saja?

Termasuk di dalamnya indraja atau pengindraan jauh yang merupakan pemantauan kondisi bumi dengan citra satelit, bidang atmosfer, dan bidang antariksa. Contohnya, informasi potensi ikan yang bisa diakses lewat citra satelit. Info tersebut bisa disampaikan kepada pihak terkait.

Apa hasil karya Lapan?

Yang sudah mengudara adalah Lapan Tubsat. Itu satelit dengan dua kamera hasil kerja sama dengan Universitas Teknik Berlin. Rekaman satelit itu bisa diakses di stasisun bumi Pare-Pare, Sulawesi; Biak Papua; maupun Bogor. Dalam proses pengembangan adalah Satelit Lapan A2 dan A3.

sumber : http://jawapos.com/deteksi/index.php?act=detail&nid=131881

~ oleh primamoklet pada Mei 5, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: